13 Santri Berprestasi Ikuti Program Beasiswa Santri Berprestasi di FK UIN Jakarta
13 Santri Berprestasi Ikuti Program Beasiswa Santri Berprestasi di FK UIN Jakarta

Auditorium M.K. Tadjudin, Berita FK Online - Fakultas Kedokteran (FK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan pembukaan matrikulasi mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Tahun 2026 di Auditorium M.K. Tadjudin, Senin (10/08/2026). Kegiatan ini menjadi awal perjalanan 13 santri berprestasi yang mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan kedokteran di FK UIN Jakarta.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A.; Dekan FK UIN Jakarta, Dr. dr. Achmad Zaki, M.Epid., Sp.OT., FICS; Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama, Dr. H. Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag.; Wakil Dekan bidang Kerjasama, drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D., serta 13 mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Tahun 2026 dan sivitas akademika FK UIN Jakarta.

Dalam sambutannya, Dekan FK UIN Jakarta, Dr. dr. Achmad Zaki, M.Epid., Sp.OT., FICS, menekankan bahwa latar belakang sebagai santri bukan menjadi penghalang untuk berprestasi dan berkembang di lingkungan pendidikan kedokteran.

Menurutnya, mahasiswa santri memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan dan mencapai prestasi selama menjalani pendidikan di FK UIN Jakarta. “Tidak jadi penghalang, walaupun menjadi santri, tapi tetap berprestasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dinamika dunia kedokteran yang semakin tinggi, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan profesi dokter dan hubungan dengan pasien. Menurutnya, kemampuan akademik saja tidak cukup untuk membentuk seorang dokter yang baik. Mahasiswa juga perlu memiliki empati dan kemampuan merespons apa yang dirasakan pasien.

Hal tersebut, lanjutnya, perlu diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan mahasiswa, termasuk ketika berkomunikasi dan beraktivitas di media sosial. Setiap tindakan dan unggahan di media sosial perlu tetap mencerminkan profesionalisme seorang calon dokter.

“Bagaimana merespon apa yang dirasakan pasien, mengetik di media sosial, menjalankan profesionalisme yang menjunjung tinggi empati,” jelasnya.

Lebih jauh, Dekan FK UIN Jakarta menilai nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter UIN Jakarta harus menjadi kekuatan tersendiri bagi mahasiswa FK UIN Jakarta. Integrasi antara pendidikan kedokteran dan nilai-nilai Islam diharapkan dapat melahirkan calon dokter yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

“Harusnya, kita sebagai UIN yang mengintegrasikan keislaman, harusnya menjadi representasi empati, keluhuran Islam itu sendiri yang menjadi utama di FK UIN Jakarta,” tuturnya.

Senada, Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., menegaskan bahwa latar belakang sebagai santri tidak akan membuat mahasiswa tertinggal dari mahasiswa pada umumnya.

Ia menilai kehidupan di pesantren telah membentuk kebiasaan mahasiswa untuk menjalani aktivitas yang padat, disiplin, serta mampu mengatur berbagai kegiatan secara bersamaan.

“Santri tidak akan tertinggal dengan mahasiswa pada umumnya. Santri sudah terbiasa, terlatih, untuk mengerjakan aktivitas yang padat,” ujarnya.

Bergabung melalui zoom meeting, Dr. H. Ruchman Basori, S.Ag., M.Ag., Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) pada Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, menyampaikan bahwa kesempatan yang diperoleh 13 santri tersebut merupakan sebuah privilege. Para penerima PBSB mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan kedokteran di FK UIN Jakarta.

Menurutnya, program tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan akses pendidikan tinggi kepada santri berprestasi sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi lebih luas melalui bidang profesi yang dipilih.

Kesiapan tersebut menjadi modal penting bagi mahasiswa PBSB dalam menghadapi pendidikan kedokteran yang memiliki tuntutan akademik dan aktivitas yang cukup tinggi. Kebiasaan disiplin dan kemampuan mengelola aktivitas yang telah terbentuk selama menjadi santri diharapkan dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan akademik FK UIN Jakarta.

Program PBSB juga memiliki makna strategis dalam memperkuat integrasi antara pendidikan keislaman dan pendidikan kedokteran. Kehadiran para santri berprestasi di FK UIN Jakarta diharapkan tidak hanya menambah keberagaman latar belakang mahasiswa, tetapi juga memperkuat karakter lulusan yang menjadikan ilmu kedokteran dan nilai-nilai keislaman sebagai satu kesatuan.

(AAS/NIS)