Bangun Budaya Mahasiswa Sehat, FK UIN Jakarta Bahas AI, Stres Akademik, dan Redesign PBAK
Auditorium M.K Tadjudin, Berita FK Online - Workshop Governance & Student Affairs Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan internasional untuk membahas berbagai isu strategis dalam kehidupan mahasiswa kedokteran, mulai dari membangun kompetensi mahasiswa, kesehatan mental, hingga transformasi kegiatan pembinaan mahasiswa baru, Sabtu (11/4/2026).
Pada sesi pertama, Wakil Dekan Bidang Akademik, dr. Fika Ekayanti, M. MedEd., MARS, mengangkat tema Beyond the Curriculum, yang menyoroti pentingnya memahami hidden curriculum dalam pendidikan kedokteran.
“Hidden curriculum itu nyata. Cara kita berinteraksi, budaya organisasi, bahkan tekanan yang kita rasakan, semuanya membentuk karakter dokter ke depan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tingginya tingkat stres mahasiswa kedokteran serta pentingnya menjaga motivasi awal dalam menempuh profesi ini.
“Di tengah tekanan akademik, penting untuk terus kembali pada niat awal: mengapa kita ingin menjadi dokter,” ujarnya.
Selain itu, dr. Fika turut membahas perkembangan teknologi dalam pembelajaran mahasiswa, termasuk penggunaan kecerdasan buatan.
“Sekitar 73% mahasiswa saat ini sudah menggunakan AI dalam proses belajarnya. Ini peluang sekaligus tantangan yang harus kita kelola dengan bijak,” tambahnya.
Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Gianisa Adisaputri, MD, M.Emerg.Mgt., PhD yang berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya terkait sistem organisasi mahasiswa di tingkat internasional.
“Di luar negeri, student union dan student society memiliki peran yang sangat kuat dalam mendukung kesejahteraan dan pengembangan mahasiswa,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun portofolio sejak dini serta memanfaatkan organisasi sebagai sarana pengembangan diri dan jejaring global.
“Mahasiswa perlu didorong untuk aktif membangun portofolio sejak awal, karena itu menjadi kunci dalam mengakses berbagai peluang, termasuk beasiswa internasional,” jelasnya.
Sementara itu, pada sesi “Dari ‘Ospek’ ke Onboarding: Redesigning PBAK yang Suportif”, dr. Zata Yudha Amaniko, Sp. OG dan Mahmudi Syarif Ridho menyoroti pentingnya transformasi kegiatan pengenalan kampus menjadi lebih edukatif dan berorientasi pada pembentukan budaya organisasi yang sehat.
“PBAK harus menjadi onboarding yang memanusiakan mahasiswa baru, bukan ajang menunjukkan hierarki. Dari sini, nilai organisasi yang sehat mulai dibangun,” ungkap dr. Zata.
Mahmudi menambahkan bahwa organisasi memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman awal mahasiswa.
“Kegiatan pembinaan harus dirancang untuk mengenalkan organisasi secara positif, sehingga mahasiswa baru merasa memiliki ruang untuk berkembang, baik sebagai organisator maupun non-organisator,” jelasnya.
Diskusi yang dimoderatori oleh dr. Naufal Al Hakim Salsabila ini memperkuat arah pembinaan mahasiswa baru yang lebih inklusif, adaptif, dan bebas dari praktik perundungan, sekaligus mendorong penguatan tata kelola organisasi kemahasiswaan di lingkungan FK UIN Jakarta.
(AAS/NIS)
