Bertaruh Nyawa Demi Studi: Perjalanan dr. Syahdi Farqani, Sp.OT. Menjadi Dokter Spesialis
Gedung Kedokteran, Berita FK Online - Tak banyak orang yang rela meninggalkan kenyamanan kota demi tinggal selama dua tahun di pedalaman Papua. Lebih sedikit lagi yang melakukannya demi mengejar satu mimpi: melanjutkan pendidikan menjadi dokter spesialis.
Bagi dr. Syahdi Farqani, Sp.OT., alumni angkatan pertama Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Bertugas sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di wilayah kabupaten Mamberamo Raya, Papua, bukan sekadar pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga jalan yang membawanya mewujudkan cita-cita menjadi dokter spesialis ortopedi.
"Jadi kalau ditanya, kok bisa sekolah ya? Karena saya tugas di Papua," kenangnya.

RS Bergerak, Kasonaweja, Mamberamo Raya Papua. Bersama rekan sejawat Dokter, Dokter Senior, Perawat dan Bidan. (Sumber: Pribadi)
Di daerah yang saat itu belum memiliki akses perbankan maupun fasilitas yang memadai, ia menjalani kehidupan yang jauh dari kata mudah. Selama bertugas, ia mengumpulkan setiap penghasilan sebagai bekal melanjutkan pendidikan.
"Karena di Papua itu, saya tidak bisa menghabiskan uang, karena di sana tidak ada yang jualan. Jadi saya bertahan hidup, survive di sana, makan daun, semua ikan. Tidak ada yang jual-jual. Bank saja belum ada waktu itu," tuturnya.
Namun, perjuangan itu tidak hanya menguji fisik dan mental. Ada masa ketika nyawa menjadi taruhannya.
"Saya hampir berurusan dengan maut ya. Ternyata Allah masih memberikan keberuntungan kesehatan," ujarnya. Pengalaman tersebut justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa setiap perjalanan hidup selalu memiliki hikmah yang telah Allah tetapkan.
Menjadi dokter ternyata telah tumbuh dalam dirinya sejak masih duduk di bangku SMA. Lingkungan tempat tinggalnya di kompleks dosen UIN Jakarta menjadi ruang pertama yang membentuk cita-cita tersebut. Ia melihat langsung sosok mahasiswa kedokteran yang dinilainya memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan adab yang baik.
"Rupanya adalah mahasiswa kedokteran. Masya Allah, sehingga terinspirasi begitu perjuangan, menunjukkan prestasi yang bagus, kemudian attitudenya atau adabnya yang bagus. Tanpa saya sadari itu menjadi motivasi," jelasnya.
Keinginan menjadi dokter semakin kuat setelah peristiwa tsunami Aceh. Sebagai keturunan Aceh, ia ingin terjun menjadi relawan, tetapi saat itu usianya masih terlalu muda.
"Terjadi tsunami di Aceh, itu memang menjadi titik besar daripada hati saya... sehingga menguatkan niat saya untuk menjadi dokter."
Tak lama kemudian, kesempatan itu datang. Tahun 2005 menjadi tahun bersejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi UIN Jakarta. Program Studi Pendidikan Dokter baru saja dibuka, dan ia diterima sebagai mahasiswa angkatan pertama.
Ia mengakui sempat diliputi keraguan. Program studi tersebut masih sangat baru dan belum memiliki lulusan. Namun kehadiran para tokoh pendiri Fakultas Kedokteran UIN Jakarta membuatnya yakin bahwa pilihan tersebut adalah keputusan yang tepat.
Menjadi mahasiswa angkatan pertama memiliki tantangan tersendiri. Selain mengikuti perkuliahan yang padat, ia bersama teman-temannya harus membangun fondasi organisasi kemahasiswaan dari nol. Bersama dr. Awab Zaki Habibi dan mahasiswa lainnya, mereka merintis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UIN Jakarta dengan belajar langsung dari Senat Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia.
Baginya, menjadi mahasiswa angkatan pertama berarti memikul tanggung jawab lebih besar daripada sekadar lulus sebagai dokter. "Kita harus menjadi suri teladan dan contoh yang baik buat adik-adik kita, bagaimana membangun budaya pendidikan dokter."
Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, dr. Syahdi sempat menjalani internship di Cilegon sebelum memutuskan berangkat ke Papua sebagai dokter PTT. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Selain mengabdi kepada masyarakat di daerah terpencil, ia ingin mempersiapkan biaya pendidikan spesialis secara mandiri.
Selama dua tahun bertugas di Papua, seluruh penghasilannya ia tabung. Pengorbanan itu akhirnya membuka jalan untuk mengikuti magang di Departemen Ortopedi dan Traumatologi FKUI-RSCM.
Kesempatan tersebut menjadi pintu masuk menuju pendidikan dokter spesialis. Bahkan selama masa magang, ia dipercaya terlibat dalam proses akreditasi departemen sehingga memiliki kesempatan belajar langsung bersama para guru besar ortopedi.

Suasana ronde pagi di bangsal perawatan Orthopaedi RSPAD Gatot Subroto, bersama Dokter pembimbing dan sejawat. (Sumber: Pribadi)
Perjuangan belum berhenti ketika ia resmi menjadi residen. Pendidikan spesialis menuntut dedikasi penuh karena seorang residen harus berada di rumah sakit selama 24 jam dan tidak diperbolehkan bekerja di tempat lain.
"Pada sekolah itu merupakan titik berat saya, karena selama saya pendidikan itu tidak boleh bekerja. Dan sebagai seorang residen, tugasnya adalah 24 jam di rumah sakit."
Lima tahun kemudian, seluruh perjuangan tersebut berbuah manis. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai dokter spesialis ortopedi dan traumatologi.
Di tengah perjalanan akademiknya, hubungan dengan almamater juga tidak pernah terputus. Bahkan sebelum memulai pendidikan spesialis, ia telah diminta bergabung sebagai dosen tidak tetap oleh Dr. dr. Achmad Zaki.
Kini, setelah bertahun-tahun menjalani profesi dokter, dr. Syahdi menyadari bahwa ilmu kedokteran tidak hanya berbicara mengenai diagnosis dan terapi. Menurutnya, seorang dokter harus mampu menjadi pemimpin, komunikator, pendidik, sekaligus teladan bagi masyarakat.
"Sebagai dokter, bukan hanya kita pintar di teori. Tetapi, kita juga sebagai five star dokter," ujarnya.
Di akhir perbincangan, ia menitipkan pesan kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Jakarta agar tidak pernah berhenti berbuat baik dan terus menjaga empati kepada pasien. "Berterima kasihlah kepada pasien. Karena pasien adalah guru terbaik kita."
Bagi dr. Syahdi Farqani, perjalanan menjadi dokter spesialis bukan sekadar tentang memperoleh gelar. Di baliknya terdapat doa orang tua, pengorbanan keluarga, pengabdian di pelosok negeri, hingga pengalaman mempertaruhkan nyawa. Semua itu menjadi pelajaran hidup yang terus ia bawa sebagai alumni Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam mengabdikan diri bagi masyarakat.
(AAS/NIS)
