Dari FK UIN Jakarta ke Kanada, dr. Gianisa dan Perjalanan Menemukan Jalan Pengabdian
Dari FK UIN Jakarta ke Kanada, dr. Gianisa dan Perjalanan Menemukan Jalan Pengabdian

Gedung Kedokteran, Berita FK Online - Bagi Dr. Gianisa Adisaputri, MD, M.Emerg.Mgt., PhD, menjadi dokter bukan berarti perjalanan harus berhenti di ruang praktik atau berakhir pada pilihan menjadi dokter spesialis. Perjalanan akademik dan profesionalnya justru membawanya melewati berbagai bidang, dari kedokteran, manajemen kedaruratan, resiliensi, population health, hingga penelitian sistem layanan kesehatan di Kanada.

Perjalanan tersebut berawal ketika Gianisa duduk di kelas 3 SMA. Saat mulai menentukan pilihan perguruan tinggi, ia sudah mengetahui satu hal yang ingin dikejarnya, yaitu fakultas kedokteran. Ia mulai mempertimbangkan sejumlah fakultas kedokteran di Jakarta maupun di luar Jakarta.

Pada saat itu, ayahnya yang merupakan profesor di Universitas Indonesia menyarankan agar Gianisa mempertimbangkan Fakultas Kedokteran yang baru dibuka di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ayahnya mengenal Prof. Tajudin dan mengetahui reputasinya. Selain itu, saat itu program kedokteran UIN juga memiliki kerja sama dengan Universitas Indonesia dan sejumlah mitra dari Jepang.

Pertimbangan tersebut akhirnya membawa Gianisa mendaftarkan diri. Ia diterima melalui jalur STMD dan sejak awal menempatkan FK UIN Jakarta sebagai pilihan pertamanya yang tanpa disangka, pilihan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Gianisa menjadi Bagian dari Generasi Awal

Ketika dr. Gianisa masuk, FK UIN Jakarta masih berada dalam fase awal pengembangan. Jumlah mahasiswa belum banyak sehingga hubungan antarmahasiswa, kakak tingkat, dosen, dan fakultas terasa sangat dekat. Baginya, suasana tersebut justru menjadi kekuatan.

Ia mengaku mendapatkan dukungan yang sangat besar dari lingkungan kampus, terutama ketika harus melewati berbagai tantangan selama masa pendidikan kedokteran dan koas.

"Kalau saya bukan di UIN, saya tidak akan mendapatkan support seperti yang saya dapatkan di UIN," kenangnya.

Masa pendidikan tidak selalu berjalan mudah. Ada titik-titik ketika dirinya merasa berat dan sempat berpikir untuk menyerah. Tekanan pendidikan kedokteran, aktivitas di rumah sakit, serta berbagai persoalan yang harus dihadapi membuatnya pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan pendidikan kedokteran. Namun, dukungan dari teman, kakak tingkat, dan fakultas membuatnya bertahan.

Bertahun-tahun kemudian, ia menyadari bahwa dukungan tersebut bukan sekadar bantuan untuk menyelesaikan kuliah. Ikatan sosial dan rasa memiliki terhadap almamater justru menjadi salah satu hal yang paling ia kenang hingga kini.

Ketika ditanya mengenai satu momen paling berkesan selama berkuliah, Gianisa bahkan tidak menunjuk satu peristiwa tertentu. Baginya, yang paling berkesan adalah social connection dan dukungan yang ia rasakan sepanjang masa pendidikan.

"Saya tidak bisa mengatakan satu, karena saya merasakan connection support itu selama sepanjang perkuliahan. Support dan connection yang saya rasakan itu selalu konstan," ujarnya.

Dari Kedokteran Menuju Manajemen Kebencanaan

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Gianisa kemudian mengambil langkah yang mungkin pada awalnya terlihat berbeda dari jalur kedokteran konvensional. Ia melanjutkan pendidikan di bidang emergency management di Selandia Baru.

Bagi Gianisa, kedokteran dan manajemen kebencanaan sebenarnya tidak benar-benar bertolak belakang.

Dalam situasi bencana, dokter dan tenaga kesehatan tidak hanya dituntut mampu memberikan pelayanan medis. Mereka juga dapat berada dalam posisi yang membutuhkan kemampuan mengambil keputusan, mengatur sumber daya, memimpin tim, dan menentukan respons yang tepat di tengah situasi yang serba terbatas.

Ia memberi gambaran sederhana. Ketika terjadi banjir dan sebuah posko kesehatan harus dibuka, persoalannya bukan hanya siapa dokter yang datang. Ada pertanyaan mengenai lokasi posko, kebutuhan peralatan, jumlah tenaga kesehatan, obat-obatan, hingga bagaimana seluruh sumber daya tersebut dikelola.

"Jadi bukan cuma skill praktisi saja yang kita butuh, tapi juga leadership, gimana manage situasi bencana," jelasnya.

Sebagai dokter, ia merasa telah mempelajari aspek praktik kedokteran. Namun untuk dapat memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat, ia membutuhkan pemahaman mengenai bagaimana situasi kedaruratan dikelola.

"Saya merasa sebagai dokter, saya di fakultas kedokteran, setelah saya jadi dokter, saya belajar di bidang praktisinya. Tapi supaya saya bisa kontribusi lebih ke masyarakat, bagian manajemen adalah aspek yang saya pikir saya butuhkan," tuturnya.

Berpindah ke Kanada dan Menemukan Dunia Riset

Setelah menyelesaikan pendidikan emergency management, Gianisa kemudian pindah ke Kanada. Di sana, ia bekerja sebagai asisten penelitian bersama akademisi yang berfokus pada pengembangan resiliensi pada anak, remaja, dan orang dewasa.

Latar belakangnya dalam kedokteran dan emergency management ternyata menemukan ruang yang luas dalam penelitian tentang resiliensi. Dari sanalah perjalanan akademiknya berkembang menuju jenjang doktoral.

Gianisa kemudian menempuh pendidikan PhD di Dalhousie University, Kanada. Dalam perjalanan akademiknya, ia bergabung dengan lingkungan Resilience Research Centre di Faculty of Health. Namanya kemudian tercatat dalam sejumlah penelitian mengenai resiliensi, akses layanan kesehatan, kesehatan masyarakat, dan pengalaman kelompok yang menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh layanan.

Salah satu penelitian yang melibatkan Gianisa mengkaji pengalaman anak muda dalam mengakses dukungan dan layanan kesehatan serta sosial di wilayah Drayton Valley, Kanada. Penelitian tersebut diterbitkan dalam The British Journal of Social Work pada 2025.

Penelitian lainnya bersama Michael Ungar mengkaji perubahan identitas profesional dokter Indonesia selama pandemi COVID-19. Studi tersebut melihat bagaimana tekanan selama pandemi memengaruhi identitas profesional tenaga medis, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang membantu mereka beradaptasi dan mempertahankan kesejahteraan.

Kedokteran memberikan pemahaman mengenai pasien dan praktik klinis. Emergency management memperkenalkan aspek kepemimpinan dan pengelolaan situasi krisis. Sementara population health, resiliensi, dan health services research membawanya melihat kesehatan dalam perspektif yang lebih luas.

Hari ini, pengalaman tersebut ia gunakan dalam pekerjaan penelitian di lingkungan sistem kesehatan Kanada. Ia terlibat dalam health services research, dengan perhatian pada berbagai kelompok dan komunitas, termasuk anak-anak, remaja, perempuan, imigran, serta masyarakat di wilayah rural.

Pada 2026, Canadian Institutes of Health Research juga mencatat Gianisa dalam program Health System Impact Fellowship di Dalhousie University dan IWK Health. Fokus pekerjaannya adalah membangun kerangka evaluasi peningkatan kualitas layanan kesehatan yang berorientasi pada kesetaraan, dengan melibatkan pengalaman kelompok yang kurang terlayani dan tenaga kesehatan garis depan.

Tetap Terhubung dengan FK UIN Jakarta

Meski perjalanan akademiknya membawa Gianisa jauh dari Indonesia, hubungan dengan FK UIN Jakarta tidak terputus.

Ia masih mengikuti dan terlibat dalam kegiatan akademik yang diselenggarakan FK UIN Jakarta. Dalam salah satu kegiatan pada 2026, Gianisa berbagi pengalaman mengenai pendidikan di luar negeri, sistem organisasi mahasiswa internasional, pentingnya membangun portofolio sejak dini, serta bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan organisasi untuk membangun jejaring global. "Yang paling berkesan adalah social connection dan support yang saya dapat," katanya.

Ikatan tersebut pula yang membuat pengalaman yang ia peroleh di luar negeri kembali dibagikan kepada mahasiswa FK UIN Jakarta.

Ia ingin mahasiswa mengetahui bahwa kesempatan untuk berkembang tidak selalu datang dalam bentuk yang sama. Ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, melakukan penelitian, membangun jejaring internasional, maupun memasuki bidang yang sebelumnya mungkin belum pernah mereka bayangkan.

Pada akhirnya, pesan Gianisa kepada mahasiswa FK UIN Jakarta sederhana. Jangan terlalu cepat membatasi masa depan hanya berdasarkan satu gambaran mengenai profesi dokter.

"Berpikir di luar kotak," pesannya.

Ia mengingatkan bahwa mahasiswa kedokteran sering kali memiliki bayangan yang sangat jelas tentang masa depan. Lulus, menjadi dokter, mengambil pendidikan spesialis, kemudian praktik. Jalur tersebut tentu tetap terbuka, tetapi bukan satu-satunya jalan.

Dari mahasiswa FK UIN Jakarta, ia melanjutkan pendidikan di bidang emergency management, kemudian bekerja dalam penelitian, melanjutkan PhD, mendalami population health dan resiliensi, hingga kini terlibat dalam penelitian sistem layanan kesehatan di Kanada.

Bagi Gianisa, tidak semua jawaban tentang masa depan harus ditemukan sejak awal. Yang penting adalah berani mencoba, menjalani proses, dan terbuka terhadap kemungkinan baru yang muncul di sepanjang perjalanan.

Sebab, seperti yang ia alami sendiri, pendidikan kedokteran bukanlah sebuah jalan dengan satu tujuan akhir. Ada banyak jalan yang dapat ditempuh. Dan setiap jalan dapat menjadi ruang pengabdian dengan caranya masing-masing.

IMG-20261021-WA0002

(AAS/NIS)