Dari Penerima Beasiswa Menjadi Penggerak Kesehatan: Kiprah dr. Sakinah Ginna untuk Klinik dan Eliminasi TBC di Garut
Gedung Kedokteran, Berita FK Online - Sakinah Ginna Rosmawati, dokter Kepala Klinik Darul Arqam, merupakan salah satu tenaga medis yang selama lebih dari satu dekade berperan dalam upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Garut. Dokter kelahiran Garut, 19 September 1987 tersebut menjalankan aktivitas pelayanan kesehatan sekaligus terlibat dalam penanganan dan pencegahan TBC di wilayah Garut.
Semua berawal dari cita-cita masa kecil yang sempat ia kubur. Terinspirasi lagu anak-anak Susan Punya Cita-Cita, Ginna kecil ingin menjadi dokter. Namun keterbatasan ekonomi keluarga membuat orang tuanya keberatan. "Ah, jangan jadi dokter. Bakal mahal biayanya... Udah weh turunin cita-citanya," kata orang tuanya kala itu. Ginna pun mengalihkan pilihan ke jurusan Farmasi.
Titik balik datang lewat telepon Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam, yang menawarinya Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI untuk jurusan kedokteran. "Alhamdulillah, saya lulus di jurusan Kedokteran UIN," kenangnya. Beasiswa penuh itu datang dengan syarat: mengabdi kembali ke pesantren selama tiga tahun setelah lulus.
Berjuang sebagai Angkatan Pertama
Pada 2005, Ginna menjadi mahasiswa Angkatan Pertama Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Status sebagai pionir membuatnya dan 54 teman seangkatan harus membuktikan diri di tengah skeptisisme. "Ngapain sih, UIN bikin fakultas kedokteran?" adalah cibiran yang berulang kali mereka dengar, terutama saat menjalani koas. "Karena kan mungkin kalau koas kita lebih banyak terpapar dengan orang luar... lebih ke harus struggle bener-bener menunjukkan kualitas kita," ujar Ginna.
Di tengah tekanan itu, ia justru aktif merintis organisasi kampus, dari BEM fakultas hingga UIN Syahid Medical Rescue, dan mencatatkan IPK 4 di semester pertama. Lulus pada 2010, ia menjalani setahun magang di Pandeglang sebelum kembali ke Garut memenuhi janji pengabdiannya.

Merintis Program TB dari Balai Pengobatan
Ginna kembali ke Pesantren Darul Arqam pada 2012 sebagai dokter fungsional, saat fasilitas kesehatan pesantren masih berstatus balai pengobatan, baru berubah menjadi klinik pada 2013. Di tahun yang sama ia bergabung ke pesantren, 'Aisyiyah Garut menerima program dari Global Fund untuk Community TB Care 'Aisyiyah (CTCA), dan Ginna dipercaya menjadi koordinatornya. "Ada program baru, nih. Mau nggak jadi koordinatornya? Kita butuh dokter biar lebih profesional," begitu tawaran yang ia terima.
Bagi Ginna, pengobatan TBC tak cukup dengan obat semata. "Kayak mereka juga pas sakit TB 6 bulan itu kan... kalau dia tulang punggung, berarti dia harus off dulu kerja, atau dia jadi nggak punya penghasilan. Atau bahkan ada yang sampai ditinggal sama pasangannya," katanya. Program ini menyasar wilayah rentan yang ia sebut daerah "kumis tebal" kumuh, miskin, terbelakang.
Pemahaman itu mendorongnya menggandeng Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (Yahintara) memulai program Bedah Rumah Pasien TB, yang pada 2020 berkembang membangun Rumah Singgah TBC Langit Lenglang tempat isolasi pasien TBC kurang mampu di dua minggu pertama pengobatan. Program ini menembus panggung nasional: menjadi situs telekonferensi Presiden Joko Widodo dalam Pencanangan Eliminasi TBC 2030 (2020), dipresentasikan dalam INA TIME (2021), dan mengantarkan Yahintara meraih Penghargaan Terpuji dari Ikatan Arsitek Indonesia. Sepanjang 2012–2017, salah satu kader TB teladan binaan Ginna menemukan 5.705 suspek TB, dengan 725 pasien dinyatakan sembuh.
Saat dana Global Fund berakhir pada 2017, Ginna dan tim tak berhenti bergerak, hanya "beda kolamnya aja" dari menjangkau sembilan kecamatan, mereka mundur membangun satu pilot project berbasis swadaya di Kelurahan Sukamentri lewat Kelompok Masyarakat Peduli (KMP) TBC yang kemudian mendapat SK Bupati Garut menjadi Kelurahan Siaga TBC. "Kita gak bisa sukses sendirian. Sekarang kan eranya kolaborasi," ujarnya. Konsistensi itu berbuah mendapatkan dana hibah baru pada Maret 2026 yang bekerjasama dengan Yayasan Kemitraan Tuberkulosis dengan jangkauan meluas hingga satu kabupaten penuh.

Memimpin Klinik di Tengah Duka
Tahun 2013 menjadi fase berat: di tengah kesibukannya mengembangkan program TB, ibu Ginna didiagnosis kanker payudara dan meninggal sembilan hari sebelum pernikahannya pada 2015. Pesan terakhir sang ibu, "Udah, Ginna gak usah ke mana-mana, gedein aja Klinik DA," menjadi penyemangat baginya memimpin Klinik Darul Arqam sebagai Kepala Klinik sejak tahun yang sama.
Lebih dari satu dekade memimpin, Ginna membawa klinik itu tumbuh dari fasilitas rawat jalan sederhana menjadi klinik rawat inap, ditopang Hibah Grassroots dari Kedutaan Besar Jepang senilai Rp 524 juta pada 2020 dan dukungan Rp200 juta dari Dinas Kesehatan Jawa Barat pada 2023, mengantarkan Klinik DA meraih predikat Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Paling Berkomitmen se-Jawa Barat dari BPJS Kesehatan. "Kita terus berbenah meningkatkan kualitas, apa yang bisa kita tingkatkan di bulan ini, di tahun ini, terus aja," katanya, menyebut prinsip itu sebagai continuous improvement. Setahun terakhir, ia mulai bergeser dari operasional ke peran manajerial dari "chief of everything" menjadi, istilahnya, "the real CEO" di belakang layar.

"Kesuksesan Itu Gak Ada yang Instan"
Bagi Ginna, seluruh pencapaian ini adalah buah konsistensi, bukan hasil instan. "Semuanya pastinya didapat dengan kerja keras, dan kerja cerdas, dan yang paling penting kerja ikhlas juga," ujarnya. Ia mengenang bagaimana gerakan-gerakan yang ia rintis berjalan sunyi bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapat perhatian. "Mungkin kita awalnya gak ada yang lirik... kita berjalan dalam sunyi lah ya, berjalan dalam sepi," katanya, seraya menyebut prinsip yang ia pegang berakar dari hadis Nabi: "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain."
Puncaknya, pada 2024 Ginna meraih Penghargaan Ikatan Alumni UIN (IKALUIN) Kategori Pemberdayaan Masyarakat penghargaan yang menurutnya tak pernah ia sangka-sangka. "Semoga semakin banyak dokter-dokter lulusan UIN bisa berkarya untuk negara dan berkhidmat untuk umat," katanya menutup kisahnya.

(AAS/NIS)
