Dokter Spesialis Paru RS UIN Jakarta Ungkap Bahaya Asap Karhutla
Dokter Spesialis Paru RS UIN Jakarta Ungkap Bahaya Asap Karhutla

Berita FK UIN Online - Terjadi secara masif, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menimbulkan banyak dampak buruk kepada masyarakat Indonesia, dengan titik kebakaran lahan gambut di wilayah Kalimantan yang parah, diikuti dengan wilayah Sumatera dan Papua serta wilayah Jawa yang juga mengalami kebakaran di kawasan hutan lereng gunung mengakibatkan berbagai penyakit pernapasan muncul dengan peluang yang sangat besar. Terhitung kurang lebih terjadi selama empat hingga tujuh bulan, karhutla masih menjadi waspada masyarakat dengan potensi-potensi penyakit yang bermunculan.

Dokter spesialis paru Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus alumni Fakultas Kedokteran UIN Jakarta, dr. Siti Binayu Adzani Sp.P., turut angkat bicara mengenai potensi penyakit yang paling berbahaya sampai yang paling mudah terpapar oleh masyarakat. 

Dilansir dari iNews Siang, dr. Siti Binayu Adzani menjelaskan bahwa asap karhutla berbahaya terhadap paru-paru dan menimbulkan dampak jangka pendek maupun jangka panjang, paparan asap dapat menyebabkan peradangan dan penyempitan saluran pernapasan selain itu, gangguan kesehatan yang dapat terjadi meliputi gejala menyerupai asma, sumbatan saluran pernapasan, pneumonia, hingga sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).

Ia juga menjelaskan bahwa tingkat keparahan dampak paparan asap bergantung lagi kepada kondisi, durasi dan konsentrasi asap. “Jadi bergantung kepada durasi, paparan, dan besarnya dari konsentrasi. Terutama pada individu yang rentan seperti lanjut usia, ibu hamil, atau anak ini merupakan individu yang sangat rentan. Sehingga apabila terpajan dalam konsentrasi yang cukup besar dan lama, itu akan memungkinkan gejala yang berat bahkan sampai kematian,” jelasnya.

Mempelajari lebih dalam, dr. Siti Binayu mengatakan partikel halus asap disebut dengan ultra halus yang tidak terlihat oleh mata, partikel tersebut sangat mudah masuk hingga ke alveolus dan menghambat pertukaran oksigen. “Yang terkena akan mengalami sakit kepala, pingsan, bahkan tidak sadarkan diri bahkan dalam kondisi yang sampai berat,” jelasnya.

Lanjutnya, ia menjelaskan gejala yang dialami dari bahayanya asap ultra halus. “Yang pertama adalah sesak nafas yang memberat, jadi nafasnya ini berbunyi ataupun individunya tidak sadarkan diri, kemudian juga terdapat pergerakan otot-otot untuk meningkatkan usaha napas, kemudian juga gejala batuk yang tidak sembuh-sembuh atau dengan produksi dak yang sangat banyak, dan juga kondisi yang bibir kebiruan atau jari-jari yang keburuan itu menandakan adanya cyanosis, sehingga oksigennya terganggu, itu harus segera datang ke rumah sakit,” tuturnya.

Menutup penjelasan mengenai bahaya asap karhutla, dr. Siri Binayu mengimbau untuk antisipasi dari bahayanya asap karhutla, walaupun sulit untuk menghindari asap karhutla, namun dengan mengurangi aktivitas harian dan menyiapkan ruangan steril untuk diri sendiri berdiam tanpa membuat asap tambahan seperti dari rokok ataupun yang berbentuk elektrik menjadi opsi langkah antisipasi yang bisa kita lakukan.

(MA/NIS)