Kemendiktisaintek Tekankan Kualitas Dokter, Prof. Tri Hanggono Buka Ruang Dialog dengan Mahasiswa
Auditorium MK. Tadjudin FK UIN Jakarta - Prof. Dr. dr. Tri Hanggono Achmad, Staf Ahli Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), menegaskan bahwa peningkatan kualitas dokter menjadi fokus utama pemerintah dalam pembangunan pendidikan kedokteran nasional. Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara pada Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Nasional 2026 yang diselenggarakan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) 2025/2026, Jumat (7/2/2026). Kegiatan ini berlangsung pada hari ketiga di Auditorium MK. Tadjudin Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam pemaparannya, Prof. Tri menjelaskan bahwa Kemendiktisaintek terus mendorong peningkatan mutu pendidikan kedokteran melalui penerapan standar pendidikan yang lebih tinggi, termasuk pelaksanaan uji kompetensi serta penguatan sistem penjaminan mutu. Kebijakan tersebut bertujuan memastikan lulusan dokter memiliki kompetensi profesional yang memadai sebelum terjun memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Peningkatan kualitas dokter harus dijaga melalui standar yang jelas, salah satunya dengan uji kompetensi dan evaluasi berkelanjutan,” ujar Prof. Tri. Menurutnya, meskipun pemerintah juga melakukan pengendalian jumlah lulusan dokter khususnya spesialis, kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghambat regenerasi tenaga medis, melainkan untuk menjaga mutu lulusan.
Ia menambahkan bahwa fokus pada kualitas menjadi penting agar dokter yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan jumlah, tetapi juga memiliki kemampuan, etika, dan tanggung jawab profesional. Dengan demikian, kualitas pelayanan kesehatan nasional diharapkan dapat meningkat secara berkelanjutan.
Pada sesi tersebut, Prof. Tri juga membuka ruang diskusi dan menegaskan komitmen Kemendiktisaintek untuk mendengarkan aspirasi dari luar, khususnya dari mahasiswa kedokteran. Ia menilai mahasiswa merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan tinggi karena terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan evaluasi.
“Kami ingin mendengar suara mahasiswa kedokteran, terutama terkait proses pendidikan dan kelulusan dokter,” katanya. Ia menyebut forum LKMM Nasional sebagai wadah strategis untuk menjembatani aspirasi mahasiswa dengan pengambil kebijakan.
Prof. Tri berharap masukan yang disampaikan dalam forum tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan kebijakan pendidikan kedokteran di Indonesia. Menurutnya, kebijakan yang kuat harus dibangun secara partisipatif dan responsif terhadap kondisi nyata di lapangan.
(RGN/NIS)
