Narasi sebagai Kekuatan: dr. Gia Pratama Soroti Peran Dokter dalam Berkarya, Bercerita, dan Mempengaruhi Masyarakat
Narasi sebagai Kekuatan: dr. Gia Pratama Soroti Peran Dokter dalam Berkarya, Bercerita, dan Mempengaruhi Masyarakat

Auditorium MK. Tadjudin FK UIN Jakarta — dr. Gia Pratama menekankan pentingnya kemampuan bercerita dan membangun narasi sebagai bagian dari peran dokter dalam mempengaruhi perilaku dan kesadaran kesehatan masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan dalam sesi pemaparan pada Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Nasional 2026 yang diselenggarakan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) 2025/2026, Jumat (7/2/2026). Kegiatan tersebut berlangsung pada hari ketiga di Auditorium MK. Tadjudin Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam pemaparannya, dr. Gia menjelaskan bahwa kompetensi medis yang dimiliki dokter perlu dipadukan dengan kemampuan seni menulis dan bercerita agar pesan kesehatan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Menurutnya, pemahaman merupakan kunci utama sebelum seseorang terdorong untuk mengubah perilaku.

“Kompetensi kita harus digabungkan dengan seni menulis. Karena kalau orang sudah paham, mereka akan lebih rileks, percaya diri, baru kemudian bergerak,” ujar dr. Gia. Ia mencontohkan bahwa keputusan masyarakat untuk berolahraga, menjaga pola makan, atau menerapkan gaya hidup sehat baru muncul setelah mereka benar-benar memahami alasan dan manfaatnya.

Namun demikian, dr. Gia menyoroti kenyataan bahwa banyak dokter senior dengan keilmuan yang sangat tinggi justru mengalami kesulitan dalam menyampaikan pengetahuan tersebut secara sederhana dan mudah dipahami. Padahal, menurutnya, ilmu yang mereka miliki memiliki potensi manfaat yang sangat besar bagi masyarakat luas.

“Banyak dokter yang sangat ahli di bidangnya, ilmunya luar biasa, tetapi ketika berbicara, tidak banyak yang benar-benar mengerti,” katanya. Ia menilai hal tersebut bisa terjadi karena materi yang disampaikan terlalu kompleks atau tidak disederhanakan sesuai dengan konteks audiens.

Akibatnya, pesan kesehatan yang seharusnya menjadi rujukan justru tidak tersampaikan dengan baik. dr. Gia menggambarkan kondisi tersebut sebagai informasi yang terdengar samar dan tidak jelas, sehingga membuka ruang bagi berkembangnya miskomunikasi dan misinformasi di masyarakat.

“Suara yang seharusnya sangat bermakna akhirnya hanya terdengar seperti dengungan, dan di saat yang sama, miskomunikasi justru menyebar dengan sangat mulus,” ujarnya.

Melalui sesi ini, dr. Gia mengajak mahasiswa kedokteran untuk tidak hanya mengasah kompetensi klinis, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi dan narasi. Ia menekankan bahwa dokter memiliki posisi strategis sebagai figur yang dipercaya masyarakat, sehingga kemampuan menyampaikan pesan kesehatan secara efektif menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang dokter.

(RGN/NIS)