PBAK FK UIN Jakarta Hadirkan Dr. Gia dan Habib Ja’far, Tekankan Kompetensi dan Akhlak Dokter
PBAK FK UIN Jakarta Hadirkan Dr. Gia dan Habib Ja’far, Tekankan Kompetensi dan Akhlak Dokter

Auditorium Prof. MK. Tadjudin, Berita FK Online - Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah dilaksanakan dengan mengundang dua bintang tamu yakni, Dr. Gia dan Habib Ja’far dengan rangkaian acara pemaparan materi seputar FK UIN Jakarta termasuk, layanan administrasi umum keuangan, pemaparan materi sistem pembelajaran kedokteran dan berbagai sistem kesehatan pada tubuh. Rangkaian PBAK FK dilaksanakan di Auditorium Prof. MK. Tadjudin, Jumat (28/8/2026).

Dihadiri oleh Dekan FK, Dr. dr. Achmad Zaki, M.Epid., Sp.OT., FICS., Wakil Dekan III sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UIN Jakarta, drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D., Ketua Prodi Pendidikan Dokter, dr. Marita Fadhilah, Dr.Med.Sc., Sekretaris Prodi Pendidikan Kedokteran, Dr. dr. Alyya Siddiqa, Sp.FK., Kepala Program Profesi Medis, Risahmawati, Ph.D., bintang tamu, Husein Ja'far Al Hadar dan dr. Gia Pratama Putra serta partisipasi organisasi  mahasiswa.

Dekan FK, Dr. dr. Achmad Zaki, M.Epid., Sp.OT., FICS., mengatakan pada sambutannya bahwa menjadi dokter membutuhkan ilmu, kompetensi, latihan yang berkelanjutan, serta proses pendidikan yang panjang. Selain kemampuan akademik, mahasiswa juga diingatkan untuk mengedepankan akhlak dan adab dalam menuntut ilmu. Mereka juga diminta memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beradaptasi dengan aktivitas dan ritme pendidikan kedokteran, termasuk membangun kedisiplinan dalam menjalani proses pendidikan. 

“Selain kemampuan akademik, akhlak dan adab kalian harus mengikuti, sebaik baiknya mereka menuntut ilmu memiliki adab yang baik, menguasai adab dulu baru ilmu. Saya ingin kalian memanfaatkan waktu sebaik baiknya untuk beradaptasi  dengan aktivitas di FK,” jelasnya.

Dilanjut oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D., mengenalkan kepada mahasiswa baru FK UIN Jakarta mengenai visi misi kedokteran. “Jangan heran nanti isinya ada kedokteran Islamnya, jangan heran dituntut untuk berbahasa inggris karena sesuai dengan visi untuk menunjang reputasi internasional juga untuk meningkatkan daya saing dan kompetensi lulusan serta meningkatkan prestasi mahasiswa secara nasional dan internasional,” jelasnya.

Tambahnya, ia mengimbau adanya pekerjaan secara berkelompok untuk menunjang pendidikan kedokteran pada mahasiswa baru. “Nanti diajarkan ada kuliah dengan berkelompok, karena jadi dokter tidak bisa sendiri, jadi nanti ini soft skill yang akan diasah dan berkelanjutan hingga seumur hidup. Soft skill ini coba dipetakan di dalam diri kalian misal komunikasi,” jelasnya.

Melanjutkan sesi pemaparan, PBAK FK juga menghadirkan pembelajaran materi seputar FK UIN Jakarta yang dibawakan oleh dr. Marita Fadhilah dan seputar layanan administrasi umum keuangan, pemaparan materi sistem pembelajaran kedokteran yang dibawakan oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Sundus Nuzulia, S.Sos., M.Si.

Menjadi yang ditunggu, Dr. Gia Pratama Putra mengisi sesi talkshow dengan membawakan pengetahuan kesehatan organ tubuh manusia melalui pengalaman yang ia lalui. Dr. Gia menggambarkan ginjal sebagai organ manusia. 

“Sekarang bayangin lagi di depan wastafel ada tumpukan piring kotor, tugasnya cuci piring sampai bersih, yg dilakukan pertama nyalakan keran, cucinya dengan air jernih, juha cuci dengan air deras biar lebih enak, begitu pula dengan ginjal jadi jika adik adik minum air cukup, ginjal nyuci piringnya mudah, happy, kalau adik adik minumnya air berwarna, ginjalnya capek untuk memproses,” jelasnya.

Melanjutkan permasalahan ginjal, ia menekankan untuk batas normal konsumsi gula pada tubuh manusia. “Selain gula darah yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan, tekanan darah juga perlu diperhatikan. Tekanan darah memiliki dua angka karena jantung memiliki dua fase dalam memompa darah. Harapannya, tidak ada yang memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg, yang menimbulkan pankreas dengan insulin bekerja keras juga” jelasnya.

Husein Ja'far Al Hadar menyoroti peran dokter muda dalam kehidupan masyarakat yang dilihat dari niat para pemuda. Ia menekankan bahwa niat akan memengaruhi segala proses dan hasil. 

“Tanpa niat amalan terasa kosong, baik dijalankan maupun hasilnya. Tanpa niat, amalan tidak ada tujuan, tanpa niat amalan ketika dijalankan kesana kemari, niat itu menjadi amalan menjadi nyata dan konkrit. Tidak hanya dari perspektif agama tapi filsafat, jadi orang kalau punya tujuan, maka apapun yg lewat di sekitar kamu tidak akan membuat kamu trigger,” jelasnya.

Menutup sesi PBAK fakultas, Husein Ja'far menekankan pentingnya rasa empati yang harus dimiliki oleh seorang dokter agar merasakan posisi yang sama sebagai pasien. Ia juga menjelaskan rasa empati untuk melihat bahwa yang menyembuhkan pasien adalah Tuhan Yang Maha Esa melalui tangan dokter. Hal ini menjadikan seorang dokter tidak merasa sombong saat berhasil dan tidak merasa putus asa ketika mengalami kegagalan.
(FK)