Peringati Hari Asma Sedunia, FK UIN Jakarta Bahas Penanganan dan Gaya Hidup Sehat bagi Penderita Asma
Peringati Hari Asma Sedunia, FK UIN Jakarta Bahas Penanganan dan Gaya Hidup Sehat bagi Penderita Asma

Gedung Kedokteran, Berita FK Online - Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar program edukasi kesehatan bertajuk #MedTalk FK UIN Jakarta dengan tema “Asma Terkontrol, Hidup Lebih Optimal” dalam rangka memperingati Hari Asma Sedunia, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan yang disiarkan secara langsung melalui Instagram @fkuinjkt ini menghadirkan dr. Januar Habibi, B.Med.Sc., Sp.P(K), staf pengajar PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK UIN Jakarta sebagai narasumber, dengan dr. Shabrina Petatriana sebagai moderator.

Pada kegiatan ini, masyarakat diberikan edukasi mengenai gejala, faktor pencetus, penanganan awal, hingga penggunaan terapi inhaler pada penderita asma. Edukasi ini menjadi penting mengingat penyakit asma masih sering disalahpahami dan kerap dianggap sama dengan penyakit paru lainnya.

Gejala Asma dan Perbedaannya dengan Penyakit Paru Lain

Dalam pemaparannya, dr. Januar menjelaskan bahwa banyak penyakit paru memiliki gejala yang mirip, seperti batuk dan sesak napas. Namun, terdapat beberapa tanda khas yang membedakan asma dengan penyakit lain seperti tuberkulosis (TB), pneumonia, maupun PPOK.

“Kalau pada asma, sebenarnya yang dirasakan oleh pasien adalah sesak napas, kesulitan napas yang berat. Dan terkadang dipengaruhi oleh waktu tertentu, misalnya batuk malam hari atau pagi hari, serta muncul bunyi mengi,” jelasnya.

Menurutnya, gejala tambahan seperti demam, tubuh lemas, dan penurunan kondisi umum lebih sering ditemukan pada penyakit infeksi seperti TB. Sementara pada asma, keluhan lebih dominan berupa gangguan saluran napas yang muncul berulang.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan diagnosis sendiri tanpa pemeriksaan medis.

“Kalau memiliki gejala seperti itu, segera dibawa ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, apakah ini asma atau penyakit paru lainnya,” tambahnya.

Asma dan PPOK, Apa Bedanya?

Pada kesempatan tersebut, dr. Januar turut menjelaskan perbedaan antara asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), yang sering kali dianggap sama oleh masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa keduanya memang sama-sama menyerang saluran pernapasan, namun faktor penyebab dan karakteristik pasiennya berbeda.

“Kalau PPOK biasanya ada riwayat paparan asap jangka panjang, misalnya rokok atau paparan asap lainnya. Sedangkan asma lebih sering berkaitan dengan riwayat alergi, baik pada pasien maupun keluarganya,” ujarnya.

Penjelasan ini menjadi penting karena penanganan kedua penyakit tersebut juga berbeda, sehingga masyarakat perlu memahami kondisi yang dialami sebelum melakukan pengobatan.

Penderita Asma Tetap Bisa Berolahraga

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta adalah mengenai aktivitas fisik bagi penderita asma. Banyak masyarakat menganggap penderita asma tidak boleh berolahraga karena takut memicu sesak napas.

Menanggapi hal tersebut, dr. Januar menegaskan bahwa penderita asma tetap dapat beraktivitas dan berolahraga selama dilakukan secara tepat dan sesuai kondisi tubuh.

“Pasien asma masih boleh berolahraga karena diharapkan dapat memperkuat otot-otot pernapasan,” jelasnya.

Ia menyarankan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang atau low impact exercise, seperti berenang dan bersepeda, yang dinilai lebih aman untuk penderita asma.

Selain olahraga, dr. Januar juga menjelaskan beberapa faktor yang dapat memicu kambuhnya asma, seperti debu, asap, udara dingin, alergi, aktivitas berat, hingga obat-obatan tertentu.

Penanganan Awal Saat Asma Kambuh

Dalam sesi diskusi, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai langkah awal yang dapat dilakukan saat serangan asma terjadi di rumah atau tempat kerja.

Menurut dr. Januar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjaga kondisi tetap tenang agar sesak tidak semakin berat.

“Kalau pasien panik, itu justru akan memperberat kondisinya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan obat inhaler dapat menjadi penanganan awal sebelum pasien dibawa ke fasilitas kesehatan apabila kondisi tidak membaik.

Kegiatan #MedTalk ini selain menjadi bagian dari peringatan Hari Asma Sedunia, juga menjadi komitmen FK UIN Jakarta dalam menghadirkan edukasi kesehatan yang mudah diakses masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan sistem pernapasan.

medtalk

(AAS/NIS)