Prof. Nila Moeloek: Kesehatan Tidak Bisa Berdiri Sendiri, Ini Soal Lingkungan, Pendidikan, dan Kepemimpinan
Prof. Nila Moeloek: Kesehatan Tidak Bisa Berdiri Sendiri, Ini Soal Lingkungan, Pendidikan, dan Kepemimpinan

Auditorium MK. Tadjudin FK UIN Jakarta - Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, SpM(K), Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, menekankan bahwa persoalan kesehatan masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup, lingkungan, pendidikan, serta kualitas kepemimpinan. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara pada Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa (LKMM) Nasional 2026 yang diselenggarakan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) 2025/2026, Jumat (7/2/2026). Tepatnya pada hari ketiga, di Auditorium MK. Tadjudin Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Nila menyoroti kesenjangan usia harapan hidup antarwilayah di Indonesia. Ia mencontohkan kondisi Papua dan Yogyakarta yang menunjukkan angka berbeda, namun menyimpan persoalan kesehatan yang sama-sama serius.

“Saya coba kasih data. Di Papua, usia harapan hidupnya sekitar 62 tahun, tetapi delapan tahun di antaranya dihabiskan dalam kondisi sakit berat,” ujar Prof. Nila. Sebaliknya, di Yogyakarta, usia harapan hidup mencapai 71 tahun, namun enam tahun terakhirnya juga diwarnai dengan kondisi sakit-sakitan.

Menurutnya, angka usia harapan hidup yang tinggi belum tentu mencerminkan kualitas hidup yang baik. “Kalau menurut saya, gaya hidup di kota besar justru membuat kita sakit. Stres, tidak sadar kesehatan, dan polusi menjadi faktor utama,” katanya.

Prof. Nila juga mengingatkan bahaya lingkungan yang sering luput dari perhatian, salah satunya paparan timbal akibat limbah seperti aki bekas yang dibuang sembarangan. Ia menjelaskan bahwa kandungan timbal di tanah yang melebihi ambang batas dapat berdampak serius pada kemampuan kognitif.

“Kalau kadar timbal di atas 20 mikrogram, daya tangkap anak bisa turun hampir empat poin. Artinya, sekitar empat kali lebih rendah dari kondisi normal,” ungkapnya. Ia menyesalkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ancaman lingkungan, yang menurutnya mirip dengan ketidakpedulian terhadap masalah stunting.

Tak hanya kesehatan fisik, Prof. Nila menyoroti persoalan kesehatan mental remaja, khususnya akibat kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah. Ia menyebut bahwa berbagai studi menunjukkan tingginya gangguan kesehatan jiwa pada remaja yang berbasis pada masalah keluarga dan sekolah.

“Kita mendengar begitu banyak kasus perundungan di sekolah. Dampaknya luar biasa, bahkan sampai pada ide bunuh diri,” katanya. Ia menambahkan bahwa lebih dari 50 persen anak pernah mencari tahu cara bunuh diri, sebuah fakta yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.

Dalam konteks pembangunan, Prof. Nila menilai indikator pembangunan kesehatan Indonesia masih terlalu berfokus pada usia harapan hidup. Ia mendorong penggunaan Human Capital Index sebagai ukuran yang lebih komprehensif.

“Yang kita butuhkan bukan hanya hidup lama, tetapi anak tidak stunting, pendidikan berkualitas, dewasa produktif, dan lansia tetap sehat serta berkontribusi secara ekonomi,” jelasnya.

Ia juga memaparkan upaya yang dilakukan Indonesia Health Development Center (IHDC) melalui forum diskusi kelompok terarah (FGD) yang melibatkan pemerintah, sektor industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Dari diskusi tersebut, lahir enam dimensi inti pembangunan biologi kesehatan, termasuk kedaulatan dan tata kelola sistem kesehatan.

Salah satu persoalan besar yang ia soroti adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat. “Obat-obatan kita masih bergantung pada impor. Dulu murah, tapi sekarang dengan nilai dolar seperti ini, obat jadi mahal,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa penggunaan obat generik sebenarnya sangat membantu, namun perlu didukung kebijakan yang konsisten.

Selain itu, Prof. Nila menyoroti masalah distribusi tenaga kesehatan yang belum merata. Ia menegaskan bahwa persoalannya bukan semata kekurangan dokter, melainkan ketimpangan distribusi akibat minimnya infrastruktur pendukung.

“Kesehatan tidak bisa berdiri sendiri. Kalau air bersih tidak ada, transportasi tidak ada, pendidikan terbatas, bagaimana masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan?” katanya.

Menutup pemaparannya, Prof. Nila menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Ia menilai aspirasi masyarakat sering kali tidak sampai ke tingkat pengambilan kebijakan.

“Kita perlu melibatkan suara masyarakat secara nyata. Promosi kesehatan dan keterlibatan komunitas menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran dan kualitas kesehatan nasional,” tegasnya.

(RGN/NIS)