Tangis, Doa, dan Perjuangan Mengantarkan 49 Dokter Muda Kenakan Jas Putih
Auditorium Prof. M.K. Tadjudin, Berita FK UIN Online - Sumpah Dokter ke-58 dipenuhi haru ketika perwakilan peserta Sumpah Dokter, dr. Hanifah Shafa Nugrahtuti menyampaikan kisah perjalanan penempuhan pendidikan selama menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mewakili 49 lulusan lainnya. Auditorium Prof. M.K. Tadjudin, Rabu (28/10/2026). Prosesi ini turut dilanjutkan dengan penyampaian pesan dari perwakilan orang tua peserta Sumpah Dokter, dr. Zaafira Khalida Khairunnisa Irwan yakni, dr. Dyah Agustina Waluyo, MKM., yang menyoroti perjalanan menempuh pendidikan sepanjang hayat, long life learning.
Ia menyoroti mengenai perjalanan panjang penuh tantangan dengan berbagai proses dan adaptasi, ia mengatakan bahwa memulai perkuliahan di tengah pandemi Covid-19 memiliki tantangan tersendiri. Melihat dimulainya masa pendidikan kedokteran pada jenjang S1, menjadikan dr. Hanifah menyadari, masa transisi dari sekolah ke perkuliahan dengan era pandemi tidak semudah yang dibayangkan.
Selain itu, dengan terlaksananya Sumpah Dokter menyadarkan para peserta, usaha pendidikan yang telah dilalui merupakan sebuah pencapaian dengan tantangan yang dilewati hingga menyandang gelar sarjana kedokteran dari fase awal pembelajaran hingga fase-fase capaian lainnya. “Kami menyadari bahwa satu babak telah berhasil kami lalui tetapi babak berikutnya telah menanti di depan mata, yaitu sebuah fase yang sejak awal kami tahu tidak akan mudah, yaitu pendidikan klinik atau lebih akrab kami sebut sebagai koas,” tuturnya.
Hanifa menjelaskan bahwa, ilmu yang dibawa hingga Sumpah Dokter tidak berhenti namun, mengembangkan dan terus belajar menjadi tujuan yang akan terus dituju. Dengan mengintegrasikan nilai keIslaman, Hanifa menyoroti Qur’an Surah ayat 40.
“'Innallaha ma’ana'; Quran Surah Al-Baqarah ayat 153, 'Innallaha ma’as sabirin'; Quran Surah Al-Baqarah ayat 286, 'Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha'. Kami yakin bahwa dengan doa dari keluarga dan janji Allah, Allah selalu menyediakan kemudahan,” jelasnya.
Dengan syukur, mewakilkan peserta Sumpah Dokter ke-58, ia mengatakan syukur, haru dan terimakasih. “Dan hari ini kami mengenakan jas putih yang sudah lama kami idamkan, lengkap dengan dua huruf di depan nama panjang kami. Teman-teman, mari kita jalankan amanah ini sebaik-baiknya, kita niatkan semata-mata untuk mencari ridha Allah,” jelasnya.
Melanjutkan, perwakilan orang tua dari dr. Zaafira Khalida Khairunnisa Irwan, dr. Dyah Agustina Waluyo, MKM., mengatakan kesinambungan yang ia rasakan dalam menempuh pendidikan bahwa kegiatan akademik yang dilewati merupakan perjalanan dengan penuh tantangan.
“Sama seperti tadi dikatakan, bahwa hari-hari mereka penuh dengan belajar, penuh dengan perjuangan, penuh dengan tugas. Apalagi ketika koas, rasanya, saya pernah cerita pada dr. Vika, kayaknya kok anak-anak sekarang lebih berat dari waktu kita sekolah dulu ya? Bebannya itu kok berat sekali begitu. Jadi kita melihat perjuangan anak-anak ini bahkan tidak hanya dengan fisik, tapi mereka menghadapi tekanan yang begitu kuat, bahkan tidak jarang nangis ya Bapak Ibu, datang ke rumah tahu-tahu di kamar ngurung, nangis. 'Loh kenapa?' 'Besok mau ujian.' Bahkan sampai detik terakhir pengumuman UKMPPD itu pada nangis, saya enggak... saya tanya 'kenapa?'. Karena mereka khawatir,” jelasnya.
Dengan jalan pendidikan yang memiliki kesamaan, long life learning menjadi istilah yang cocok untuk menggambarkan berapa lama seorang dokter terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. “Teruslah belajar karena masih banyak bidang yang harus kalian dalami. Lagi pula, pasti dari IDI juga akan berpesan, dokter itu belajar sepanjang hayat, jadi tidak boleh berhenti sampai di sini. Jadi anak-anakku, kami berharap jadilah dokter yang utuh, dokter yang manusiawi, dan dokter yang profesional serta kompeten,” jelasnya.
Ia juga mengimbau untuk tetap selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. sebagai dokter yang mengintegrasikan nilai keIslaman pada profesinya.
“Jangan lupa juga mengawali harimu dengan doa agar Allah selalu membukakan pikiranmu, memudahkan dan melancarkan tugasmu, serta mohonlah... jangan lupa memohon kesembuhan untuk pasienmu. Pesan guru saya dulu, ketika pertama kali kita melangkah di koas 'Jangan lupa doakan pasienmu, karena itu adalah permohonan yang tulus yang insyaallah akan dikabulkan oleh Allah,” jelasnya.
(MA/NIS)
